|
Ini adalah sekilas tentang Penulis Puji syukur penulis ucapkan kepada sang maha kuasa, sehingga website ini kami dapat menyelesaikan dengan tidak kekurangan apapun. Penulis Berharap web ini bermanfaat bagi pengunjung. aya sangat tertarik dengan dunia internet diman kita dapat mengetahi Berita - berita terbaru bahkan kita dapat berinteraktif dengan teman kita di seluruh dunia ini. Ini adalah web design saya untuk memenuhi persyaratan kelulusan D3 (diploma tiga Tahun) di kampus Bina Sarana Informatika Bandung. Penulis mengambil Judul Web Designe dengan judul Perkebunan Sumber Sari Kepulauan Riau, dan mudah - mudahan dengan penulisan ini Penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhirnya denagn baik dan tepat waktu "Harapan Penulis" dan tentunya penulis mengucapkan Banyak Trimah kasih kepada Tuhan atas segala Berkat dan lindungannya yang diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menuangkan segala pendapat dan ide - idenya. Jika anda ingin berkunjung denagn penulis lewat Friendster.com silahkan add di leo_sbon@yahoo.com atau di Yahoo messenger silahkan di leo_sbon@yahoo.com dan jangan lupa kirimkan kritik dan saran anda Karya ini adalah sangat sederhana,jadi jangan lupa tinggalkan kritik dan saran anda kami akan menerima dengan senang hati,baik tentang website ini atau kepribadian sipenulis di |
![]() Sebutan Horas tidak asing lagi Bagi seluruh Masyarakat Indonesia dan Dunia Bagi orang Batak sebutan Horas adalah ciri kas,dan sapaan untuk pertemuan,dan perpisahan bagi siapapun dan dimanapun berada. sering kali kita dengar dan diucapkan sewaktu pertemuan-pertemuan bagi orang-orang batak yang berarti ucapan Trimakasih,senang,dan ucapan syukur dema dapat bertemu kembali dan berharap akan bertemu kembali jika berpisah. Tentang Ulos Batak
Perajin ulos Batak bertahan dengan alat tradisional. Mereka yang berjumlah sekitar 20 orang tetap menenun di rumah masing-masing yang bertetangga di Jalan Ambai, Keluarahan Sidorejo, Kecamatan Medan Tembung, Kota Medan. Justeru dengan alat itu, para perajin yakin hasil tenunan lebih baik daripada menggunakan alat tenun mesin yang lebih modern. “Kami ini sebagian besar bisa menenun karena belajar dari kampung di Pangururan, Samosir. Kami kesini mencari penghasilan yang lebih baik. Semua hasil tenunan ini kami pasarkan ke Kabanjahe (Karo), Pancur Batu, dan Deli Tua,” tutur Sianah boru Situmorang (60) saat ditemui di rumahnya di kawasan Tembung, Senin (5/3). Menurut Sianah, dengan peralatan tenun yang terbuat dari kayu dan bambu itu, para perajin selalu bisa menjual hasil tenunannya dengan harga cukup tinggi. Menenun dengan alat tenun tradisional membutuhkan waktu paling tidak seminggu untuk tenunan terbaik. Sementara untuk tenunan paling murah dibutuhkan waktu tiga hari. “Paling mahal produksi tenun kami Rp 350.000, sedangkan paling murah kami jual Rp 50.000 per lembar ulos,” kata Sianah. Dalam penjualan, semua dilakukannya dengan manajemen sederhana. Tidak ada koordinasi penjualan dan simpan pinjam dari lembaga seperti koperasi dan sejenisnya. Migrasi Meski basis tenunan mereka adalah ulos Batak Toba, mereka juga menerima pesanan tenunan ulos Karo atau ulos Simalungun. Dari semua jenis ulos yang dikerjakan, Sianah paling banyak mendapatkan keuntungan dari menenun ulos Karo. Untuk setiap ulos yang dijual Rp 50.000, para perajin bisa mendapat untung Rp 20.000. Sedangkan dengan ulos senilai Rp 350.000 nilai keuntungan bisa Rp 150.000 per ulos. “Ulos Karo nilai jualnya tinggi, karena itu kami bisa untung lebih banyak dibandingkan ulos yang lain,” kata dia. Salah satu penenun di kawasan itu, Roida boru Simarmata (61) yang juga dari Pangururan mengatakan, menenun di rumah merupakan kesibukan yang sudah dilakukan sejak kelas 4 Sekolah Dasar (SD). Nenek 18 cucu itu memakai alat tenun yang dibuat sendiri oleh keluarganya. Roida sendiri mulai menularkan kemampuannya kepada generasi muda di sekitar tempat tinggalnya. “Siapa saja yang mau belajar pasti saja ajari. Saya senang, kalau makin banyak orang yang bisa menenun,” tutur Roida. Rata-rata, para penenun mengerjakan tenun tradisional itu di rumah masing-masing. Dalam hal pemasaran, mereka memasarkannya melalui sanak keluarga sendiri. Dalam seminggu, mereka memasarkan di tiga tempat berbeda. Pemasaran juga dilakukan di rumah masing-masing saat pembeli datang memesan untuk keperluan pesta atau acara adat. Penenun dari generasi muda, Suryani boru Nainggolan dan Veronika boru Sagala mempunyai keinginan berbeda dari pendahulunya. Mereka berdua ingin mengembangkan tenun tradisional menjadi tenun yang lebih baik. “Dengan memakai alat tradisional ini kami cepat terasa capek. Hasilnya pun tidak bisa cepat,” kata Suryani |
|
||||||||
| ©2008 simbolon PA Berita | Home Utama Penelitian Penjualan Forum Pemuda Advent |