Perlunya Universitas-Universitas di Indonesia untuk Menembus Peringkat Dunia. (Bag II)
Pada salah satu artikelnya pada bulan Juli 2007, Kompas membahas bagaimana banyak negara-negara maju memperebutkan mahasiswa internasional. Sebenarnya apakah yang menarik para mahasiswa untuk belajar di luar negeri? Biasanya mereka menjawab kualitas..!! Ya, mereka menginginkan kualitas yang lebih baik, bahkan kalau bisa yang terbaik di bidangnya. Lalu bagaimana para mahasiswa tersebut mengetahui kualitas sebuah universitas? Salah satu tempat yang bisa didatangi oleh para mahasiswa tersebut yaitu “Rangking Universitas”..!! Apapun dan bagaimanapun diskusi dan argumentasinya, toh nyata-nyatanya Rangking Universitas ini masih terpakai juga.. Hehehehe… Tidak heran dikala saya nongkrong di “Kantin Bonbin UGM”, saya melihat banyak mahasiswa asing bertebaran di Fakultas Ilmu Budaya (Sastra). Selain memiliki koneksi internasional, di bidang Ilmu Budaya dan Humaniora, UGM menempati peringkat 70 dunia berdasarkan riset majalah Times pada tahun 2006.
Selanjutnya yang perlu kita cermati lagi, apakah yang menarik dan penting bagi sebuah negara untuk seorang mahasiswa asing? Artikel di Kompas menyebutkan bahwa para mahasiswa asing ini membawa devisa yang cukup besar bagi negara tersebut. Tidak kurang dari 13 milliar USD (Sekitar Rp. 118 triliun) pertahun masuk sebagai devisa ke negara Amerika Serikat dari para mahasiswa asing tersebut. Tetapi tentu bukan uang saja alasannya, hampir separuh mahasiswa asing pasca sarjana di bidang engineering dan ilmu komputer bermukim permanen, dan terlebih lagi lebih dari sepertiga ilmuwan di berbagai universitas untuk kedua subyek tersebut adalah kelahiran non-AS.
Bagaimana dengan negara tetangga kita? Singapura sudah lebih dahulu melakukan manuver-manuver tersebut. Masih ingat dengan jelas bagaimana para peserta TOFI dari Indonesia mendapat serangan fajar, yaitu disisipkan formulir pendaftaran kuliah pada pagi buta lewat bawah pintu kamar hotel para peserta. Tentu mendaftar ke universitas di Singapura ini tidak pakai biaya, bahkan dapat seabrek fasilitas dan uang saku, tetapi pasti dengan jaminan harus kerja selama beberapa tahun disana.
“Bagi Singapura, jumlah mahasiswa asing yang masuk—layaknya neraca perdagangan atau cadangan devisa—dianggap sebagai indikator ekonomi yang penting.” (Kompas, 24/07/07)
Malaysia melakukan gebrakan terbarunya dengan publikasi besar-besaran “Siap tampung 100.000 Pelajar Internasional“. Malaysia juga menegaskan bahwa yang diutamakan adalah para mahasiswa tingkat magister dan doktoral, dan tersedia beasiswa untuk mereka. Hal ini dilakukan untuk mencapai target Malaysia menjadi pusat pendidikan Internasional di Asia Tenggara hingga 2010 mendatang. Wow, terbayang pada tahun 2010 berapa banyak devisa yang masuk ke negara ini.
Kembali lagi ke masalah uang, kita semua tahu kalau mahasiswa asing biasanya membayar 2 kali atau bahkan 3 kali lebih besar untuk biaya pendidikan dibanding mahasiswa lokal. Artikel di Kompas memperlihatkan bahwa Inggris menilai industri pendidikan, nilai ekspornya lebih besar daripada industri makanan dan minuman, tembakau, asuransi, kapal dan pesawat terbang. Sekurangnya setiap tahun universitas-universitas di Inggris bisa meraup 4 miliar poundsterling (Rp 74 triliun).
Kita semua tahu bahwa Indonesia memiliki competitive advantage dibanyak bidang, dimulai ranah seni, budaya, dan kreativitas sampai kekayaan hayati. Bisa dibilang strategy yang paling masuk akal adalah saat ini Indonesia mulai memperkuat program-program pendidikan di bidang tersebut untuk menembus peringkat dunia. Kita sudah memperkenalkan Indonesia lewat UGM yang menembus peringkat 100 besar dunia di bidang arts and humanities, social science dan biomedicine pada tahun 2006. Kita dorong riset dan publikasi untuk bidang ini untuk semua universitas yang berpotensi, tetapi tentu juga dalam waktu yang bersamaan, pemerintah juga harus mendorong ilmu-ilmu natural dan teknik untuk mendunia dengan menyetor dana lebih besar untuk riset dan pengembangan kualitas. Dana tersebut darimana? Dimulai dengan realisasi pemenuhan janji 20% dari anggaran nasional untuk pendidikan.
Kesimpulan sementara dari saya (Tentu tulisan ini masih perlu diperdebatkan):
1. Dengan masuknya universitas-universitas dari Indonesia ke peringkat internasional, tentu akan menarik para mahasiswa asing untuk datang dan belajar di Indonesia. Tentu efeknya adalah masuknya devisa. Dana dari para mahasiswa asing ini secara langsung dipakai universitas penerima untuk meningkatkan kualitas, dan mungkin juga dipakai untuk subsidi silang kepada mahasiswa lokal. Adapun juga dana yang tidak sedikit akan masuk ke Indonesia untuk living cost dan akomodasi para pelajar asing ini. Sudah jelas apabila efek dari masuknya devisa ke peningkatan perekonomian adalah positif.
2. Brain Gain. Dengan meningkatnya kualitas pendidikan nasional, tentu Indonesia memiliki kualitas anak didik yang lebih baik dan menciptakan tenaga kerja yang baik dan professional. Tentu kembali lagi ke peningkatan perekonomian bangsa. Contoh dalam bidang arts and creativity, saat ini banyak graphic designer Indonesia yang sudah mulai masuk pasar internasional. Tentu sebagai cyberworker, mereka cukup mengantor di rumah dan mengirim hasil pekerjaan nya lewat internet. Bagaimana kalau universitas-universitas di Indonesia masuk di peringkat dunia dalam bidang arts?, pasti akan jauh lebih banyak perusahaan dunia yang melirik sumber daya manusia dari Indonesia untuk dimasukkan dalam list head hunting mereka.
3. Kembali lagi ke sepatah kata dari Ayah saya, Pendidikan adalah investasi. Yah, saat ini tinggal bagaimana good will dari pemerintah Indonesia untuk menginvestasikan lebih besar lagi sebagian dari anggaran nasionalnya untuk dunia pendidikan Indonesia. Yang pasti, Indonesia punya potensi dan selama ini potensi tersebut masih di sia-siakan.
Manfaat Internet Bagi Pendidikan
Agak janggal bagi penulis untuk menuliskan manfaat Internet bagi pendidikan. Namun, untuk memperjelas maka akan penulis ulas secara singkat manfaat Internet bagi pendidikan.
Akses ke sumber informasi. Sebelum adanya Internet, masalah utama yang dihadapi oleh pendidikan (di seluruh dunia) adalah akses kepada sumber informasi. Perpustakaan yang konvensional merupakan sumber informasi yang sayangnya tidak murah. Buku-buku dan journal harus dibeli dengan harga mahal. Pengelolaan yang baik juga tidak mudah. Sehingga akibatnya banyak tempat di berbagai lokasi di dunia (termasuk di dunia Barat) yang tidak memiliki perpustakaan yang
Permasalahan Internet Untuk Pendidikan
Penjabaran di atas tentunya membawa kita pada pertanyaan mengapa kita belum banyak menggunakan Internet untuk keperluan pendidikan di Indonesia. Ada beberapa alasan, dimana sebagian akan diungkapkan pada bagian-bagian di bawah ini.
Kurangnya penguasaan bahasa Inggris . Suka atau tidak suka, sebagian besar informasi di Internet tersedia dalam bahasa Inggris. Penguasaan bahasa Inggris menjadi salah satu keunggulan (advantage).
Kurangnya sumber informasi dalam bahasa Indonesia. Kita sadari bahwa tidak semua orang Indonesia akan belajar bahasa Inggris. Untuk itu sumber informasi dalam bahasa Indonesia harus tersedia. Saat ini belum banyak sumber informasi pendidikan yang tersedia dalam bahasa Indonesia. Konsep berbagi (sharring), misalnya dengan membuat materi-materi pendidikan di Internet, belum merasuk. Inisiatif langka seperti ini sudah ada namun masih kurang banyak. Contohnya: